Kamis, 09 April 2009

PEMBENIHAN UDANG GALAH

LAPORAN TOPIK PERORANGAN



Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan di Program Studi Manajeman Agribisnis Jurusan Budidaya Perairan


Oleh :
Kelompok
NEHEMIA LEOKUNA
NIM : K4 100 614



DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2009

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
PEMBENIHAN UDANG GALAH
(Macrobrachium )
Telah diuji pada tanggal….
Telah dinyatakan memenuhi syarat……..

Tim Penguji :
Ketua
Nehemia leokuna
NIP …………….





Anggota (DPA) Angota (penguji)


NEHEMIA LEOKUNA NEHEMIA LEOKUNA
NIP................................. NIP..................................





Mengesahkan : Menyetujui :


NEHEMIA LOEKUNA NEHEMIA LEOKUNA
NIP................................. NIP................................














DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Tujuan
C. II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Biologi
B. Pembenihan
C. Pendederan.
D. Pembesaran
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Instansi
B. Hasil Kegiatan PKL
1. Pembuatan Pakan Ikan
2. Analisa Proksimat
3. Uji Efisiensi Pakan
4. Pembahasan
1. Ulasan Hasil
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Saran
C. DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN





DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Proses Penepungan Bahan Baku dengan Mesin Disc Mill
Gambar 2. Proses Pencampuran dengan Mixer
Gambar 3. Grafik Tingkat Pertumbuhan Ikan Uji Coba
Gambar 4. Laboratorium Uji Efisiensi Pakan








BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Udang Galah ( Macrobrachium rosenbergii de man ) merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi. Selain mempunyai ukuran terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainnya juga memiliki nilai ekonomis penting karena sangat digemari konsumen baik di dalam maupun diluar negeri terutama di Jepang dan beberapa Negara Eropa. Oleh sebab itu Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan mencanangkan pada tahun 2003 udang galah menjadi salah satu andalan komoditas ekspor. Dengan demikian, permintaan pasarnya semakin meningkat, sedangkan penangkapan udang galah di alam semakin sulit, sehingga perlu dikembangkan usaha pembudidayaanya.

Prospek pengembangan budidaya udang galah diperkirakan lebih baik daripada ikan konsumsi dan jenis udang lainnya. Prediksi tersebut dilandasi oleh semakin tingginya tingkat konsumsi ikan (termasuk udang) perkapita pertahun penduduk dunia. Menurut FAO, sampai tahun 2010, pasar dunia masih kekurangan pasokan ikan (termasuk udang) sebesar 2 juta ton/tahun. Pasokan ikan sebesar itu tidak mungkin dipenuhi hanya dari hasil tangkapan alam, tetapi harus dipasok dari hasil budidaya.

Nilai tambah udang galah lainnya adalah waktu pemeliharaannya yang relative singkat, yakni 3-5 bulan dan tingkat produksinya yang tinggi, yakni 2-5 ton per hektar per siklus, tergantung dari padat tebar dan teknologi yang digunakan. Sementara itu, kelangsungan hidup udang galah mencapai 80 – 85 % atau tingkat kematiannya tidak lebih dari 20 %. ( Khairuman dan Khairul Amri, 2006 ).




Pengembangan budidaya udang galah di Indonesia meliputi semua lahan budidaya (kecuali laut), dari kolam, sawah (minapadi atau palawija) hingga tambak (air payau ). Oleh karena udang galah membutuhkan 2 media yang berbeda pada kegiatan pemijahan dan pembesarannya, maka kegiatan pembenihan dilakukan pada media air payau dan kegiatan pembesarannya dilakukan di media air tawar.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktik kerja lapangan ini mngenai pembenihan dan pembesaran udang galaah adalah :
1. Mahasiswa/i mampu menentukan induk udang galah yang matang gonad dan yang tidak.
2. Mahasiswa/i bisa mengetahui cara pemijahan udang galah tersebut.
3. Mahasiswa/i dapat mengetahui teknik pembenihan dan pembesaran udang galah di bak hacthery maupun ditambak.
4. Mahasiswa/i mengetahui dan mampu cara dan teknik pemanenan udang galah.



BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
A. Biologi
Udang galah termasuk famili Palamonidae dengan species Macrobrachium rosenbergii. Badan udang terdiri atas 3 bagian : kepala dan dada (cephalotorax), badan (abdomen), serta ekor (uropoda). Cephalotorax dibungkus oleh kulit keras, dibagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergerigi disebut rostrum pada bagian atas sebanyak 11 sampai 13 buah dan bagian bawah 8 sampai 14 buah. Pada udang jantan pasangan kaki jalan kedua tumbuh panjang dan cukup besar dapat mencapai 1,5 kali panjang badan, sedangkan pada betina relatif kecil.
Udang galah hidup pada 2 habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke air tawar pada stadia juwana hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorphose terjadi sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30 sampai dengan 35 hari. Udang galah bersifat omnivore, cenderung aktif pada malam hari ( Balai Budidaya Ikan Air Tawar Sukabumi, 2002).
B. Pembenihan
1. Seleksi Induk
Beberapa persyaratan induk untuk kegiatan pembenihan menurut Balai Budidaya Ikan Air Tawar Sukabumi adalah sebagai berikut :
 Ukuran induk betina diatas 40 gram dan jantan 50 gram.
 Jumlah telur cukup banyak
 Badan bersih, baik dari kotoran maupun organisme yang bersifat parasit.
 Umur induk antara 8 s/d 20 bulan.
 Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya.
 Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat.


2. Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor/m2, diberi pakan berupa pellet dengan kandungan protein 30 % sebanyak 5 % dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik dikolam maupun di bak beton dilengkapi dengan pintu pemasukkan dan pengeluaran dengan kedalaman 80 s/d 100 cm.
3. Pemijahan
Udang galah memijah sepanjang tahun, biasanya terjadi pada malam hari. Udang galah yang siap pijah dapat dilihat dari gonadnya dengan warna merah orange yang menyebar keseluruh bagian gonad sampai cephalotorax.
4. Penetasan
Setelah dilakukan pemijahan selama 21 hari, induk dipilih yang matang telur dengan warna telur abu-abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan malachite green sebanyak 1,5 mg/l, dengan cara perendaman selama 25 menit. Bak penetasan yang digunakan berukuran (1x1x0,5) m3 dengan media air payau bersalinitas 3 s/d 5 ppt, padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makanan berupa ketela rambat, singkong atau kentang dipotong-potong kecil. Hal ini untuk menghindari dampak negatif kualitas air. Pada suhu 28 s/d 300 C telur akan menetas dalam waktu 6 s/d 12 jam.
5. Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva udang galah dilakukan dalam bak bulat atau “conicle tank” dari fiberglass. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tersebut antara lain kualitas air dan pemberian pakan. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Pada hari ketiga setelah menetas diberi pakan naupli “Artemia” dengan frekwensi 3 jam sekali. Pada hari ke sebelas diberi pakan artemia diselingi pakan buatan sampai menjadi post larva dengan frekwensi pemberian pakan 3 jam sekali.
Pergantian air dilakukan setiap hari sebanyak 25 s/d 50% dan sebelumnya kotoran dibersihkan dengan cara disiphon. Salinitas media pemeliharaan larva dipertahankan 10 s/d 12 ppt. Setelah menjadi juwana salinitas media diturunkan secara bertahap menjadi 0 ppt kemudian juwana siap dipasarkan atau ditebar ke kolam untuk dibesarkan sampai ukuran konsumsi.
6. Penyakit
Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah. Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bakterial yang berasal dari air laut yaitu Vibrio sp, dengan ditandai semacam stress, fluorisensi pada larva yang mati dan terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat. Untuk mencegah terjadinya serangan bakterian perlu adanya ”Chlorinisasi” media dan pengeringan fasilitas selama 7 hari. Jika sudah terserang, pengobatannya menggunakan antibiotik dengan dosis 11 s/d 13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.
C. Pendederan
1. Persiapan Kolam
Tempat yang lebih cocok untuk pendederan juvenil adalah kolam yang mempunyai dasar berpasir. Sebelum melakukan penearan, maka kolam harus dipersiapkan lebih dahulu yaitu meliputi pengeringan dasar kolam selama 2 – 3 hari (tergantung cuaca), perbaikan pematang serta pembuatan saluran tengah kolam atau kemalir. Sebagai tempat untuk berlindung, maka dapat dipasang “shelter” atau pelindung dari daun kelapa secukupnya. Selanjutnya kolam diisi air sampai mencapai kedalaman 0,75 – 1 m. Dua atau tiga hari setelah pengisian air, kolam sudah siap untuk ditebar juvenil.
2. Penebaran Juvenil
Penebaran juvenil sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari yaitu pada saat suhu tidak terlalu panas.
Hal ini untuk menghindarkan gangguan fisik (stress) yang diakibatkan oleh perubahan suhu yang besar secara tiba-tiba. Selain itu sebelum disebar juvenil harus diaklimatisasikan dahulu dengan air kolam tempat pendederan. Padat penebaran antaraa 35 – 50 ekor/m2 dengan berat rata-rata 0,012 – 0,016 gram/ekor.
3. Pemberian Pakan
Mengingat sampai saat ini belum tersedia pakan buatan secara khusus untuk udang galah, maka sementara ini dapat digunakan pakan buatan yang biasa diberikan untuk ikan. Jumlah yang diberikan sebanyak 10 – 15% dari berat total per hari, dalam 2 kali pemberian yaitu pada pagi dan sore hari. Kandungan protein pakan tersebut antara 20 – 30%. Oleh karena ukuran juvenil yang ditebar masih sangat kecil maka pakan harus dihancurkan dahulu dengan mesin penghancur atau dengan cara menambahkan air secukupnya. Selama pemeliharaan kondisi air dari saluran pemasukan sebaiknya dalam keadaan mengalir secara terus menerus.
4. Pemanenan
Bila pendederan sudah berumur 2 bulan, maka benih udang dapat dipanen. Untuk menghindari dari terik matahari, pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Selama 2 bulan periode pemeliharaan benih dapat mencapai ukuran 3 – 5 cm dengan berat 0,5 – 1,0 gram/ekor. Derajat kelangsungan hidup yang dapat dicapai dengan sistem pendederan tradisional ini sekitar 25 – 70%.

D. Pembesaran
1. Sarana dan Fasilitas
Jenis tanah yang cocok untuk pemeliharaan udang galah adalah tanah yang sedikit berlumpur dan tidak porous. Luas kolam yang digunakan dapat bervariasi antara 0,2 -1,0 Ha. Sebaiknya berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman kolam antara 0,5-1,0 m. dasar kolam harus rata dan dibuat kemalir (caren) secara diagonal dari saluran pemasukan sampai kesaluran pembuangan, hal ini untuk memudahkan pemanenan. Kualitas air yang masuk ke kolam harus baik dan bebas dari polusi.

2. Pengelolaan Kolam
Sebelum ditanami udang galah kolam sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu secara baik dengan cara :
• Kolam dikeringkan terlebih dahulu kemudian dicangkul untuk menggemburkan dan dibiarkan selama 3-5 hari
• Untuk memberantas hama dan penyakiy dasar kolam diberi kapur dengan dosis 50-100 gr/m², kapur dicampur dengan air kemudian disebarkan secara merata keseluruh permukaan dasar kolam dan dibiarkan selama 2-3 hari
• Kolam diisi air sampai mencapai kedalaman yang sudah ditentukan kemudian diberi pupuk organik berupa kotoran ayam sebanyak 500 gr/m² maksudnya untuk menumbuhkan pakan alami.

3. Teknik Pemeliharaan
Benih udang yang siap dipelihara di kolam adalah benih udang stadia juwana atau tokolan. Pemeliharaannya dapat dilakukan dengan dua cara :
a. Monokultur
Pemeliharaan secara monokultur adalah pemeliharaan udang di kolam tanpa dicampur dengan ikan lain. Padat penebaran sebanyak 5-10 ekor/m² bila pemberian pakan tidak intensif dan 20-30 ekor/m² dengan pemberian pakan secara intensif.
b. Polikurtur
Pemeliharaan secara polikurtur adalah pemeliharaan udang di kolam disatukan dengan ikan lainnya. Adapun yang dapat dibudidayakan dengan udang adalah ikan mola, ikan tawes, ikan nilem, dan ikan “big head”. Padat penebaran ikan 5-10 ekor/m² ukuran 5-8 cm. selama pemeliharaan dapat dilakukan pemupukan susus=lan setiap 2-3 minggu berupa urea 3-5 kg dan TSP 5-10 kg/Ha kolam.
4. Pemberian Pakan
Selain makanan alami selama pemeliharaan udang galah perlu dibarikan pakan tambahan berupa pelet udang dengan kadar protein 25-30 % karena makanan alami yang tersedia tergantung pada tingkat kesuburan perairan kolam. Pada pemeliharaan secara monokultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 20 % menurun sampai 5 % dari berat badan total populasi, dengan frekuensi pemberian 4-5 kali sehari, sedangkan pada pemeliharaan secara polikultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 6 % menurun sampai 3 % dari berat badan total populasi dengan frekuensi pemberian 4-5 kali sehari.

5. Pemanenan
Pemanenan udang galah dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
a. Panen total
Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara total, sehingga produksi total dapat segera diketahui. Kerugian system ini adalah udang yang masih kecil ikut dipanen serta membuang air yang telah kaya dengan organisme dan mineral.
b. Panen selektif
Panen selektif dilakukan dengan menggunakan jaring tanpa harus mengeringkan kolam, yang tertangkap hanya udang ukuran tertentu saja. Pemanenan selanjutnya tergantung kepada tingkat pertumbuhan udang. Kerugian system ini adalah banyak membutuhkan tenaga dan bila ada ikan predator tidak dapat dibersihkan dari kolam.

6. Predator dan Penyakit
a. Predator
Predator pada pemeliharaan udang galah dikolam adalah beberapa jenis ikan seperti catfish (lele lokal) dan Snakehead, burung dan ular. Kepiting merupakan pengganggu juga karena hewan tersebut melubangi pematang kolam. Untuk mencegah masuknya hewan predator, pada saluran pemasukan air dipasang saringan dan disekeliling pematang dipasang net setinggi 60 cm.
b. Penyakit
Penyakit yang banyak menyerang udang galah adalah “Black spot” yaitu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri dan kemudian diikuti oleh timbulnya jamur, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian dan menurunnya mutu udang. Untuk pencegahan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri. Ini digunakan obat antibacterial yang diberikan secara oral melalui pakan.

7. Kualitas Air
Timbulnya penyakit pada udang biasanya disebabkan oleh kualitas air pada kolam kurang baik. Hal ini biasanya diakibatkan oleh padat penebaran yang terlalu banyak, rendahnya kandungan oksigen, pengaruh suhu serta tingginya derajat keasaman (pH) sehingga dapat menimbulkan banyak kematian. Air yang dipakai dalam pembesaran udang galah di kolam sebaiknya bebas dari polusi dengan kandungan oksigen lebih dari 7 ml/l, suhu optimum 27-30ÂșC, derajat keasaman (pH) 7,0-8,5 dan kesadahan total antara 40-150 mg/l.



BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Instansi
Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di Lingkungan Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat.
BPBPLAPU Karawang berdiri pada tahun 1975 dengan nama Unit Pembinaan Budidaya Air Payau (UPBAP), kemudian berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (BPBAP) pada tahun 1998. Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Barat Nomor 821.2/SK.860 G/Peg/2002 tanggal 2 Juli 2002 tentang alih tugas/alih jabatan di lingkungan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, maka UPBAP berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut , Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) dengan status eselon III.
Sebagai salah satu lembaga pengkajian, penerapan, dan pengembangan teknologi perikanan ikan laut dan air payau, maka BPBPLAPU Karawang memiliki Tugas Pokok dan Fungsi yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Barat nomor 45 tahun 2002 tentang tugas pokok, fungsi dan rincian tugas Unit Pelaksana Teknis Dinas di Lingkungan Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat yaitu melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang pengembangan budidaya perikanan laut dan air payau.
Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) terletak di Jl. Raya Cipucuk No. 13-15, Dusun Sukamulya, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Pedes , Kabupaten Karawang dengan ketinggian 1-2 meter diatas permukaan laut (dpl) pada surut rata-rata terendah. Instansi ini memiliki luas lahan 15 ha dengan rincian 12 ha merupakan lahan pertambakan dan 3 ha adalah lahan untuk perumahan dan perkantoran.



B. Hasil
Hasil yang diperoleh selama mahasiswa/i melaksanakan praktek di Balai Pengembangan dan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) tentang kegiatan budidaya udang galah (Macrobranchium rosenbergii) adalah sebagai berikut :
1. Pengelolaan Induk
• Pengadaan Induk
Induk yang digunakan oleh BPBPLAPU dalam kegiatan pembenihan berasal dari hasil kegiatan pembesaran.
• Seleksi Induk
Perbedaan :
- Jantan
 Bentuk tubuh bagian perut lebih ramping dan ukuran pleuronnya lebih pendek
 Letak kelamin terdapat dibaris pasangan kaki jalan kelima
 Bentuk dan ukuran kaki jalan ke dua sangat mencolok, yakni besar dan panjang mirip galah
- Betina
 Bagian tubuh tumbuh melebar dan pleuronnya agak memanjang
 Alat kelamin terdapat pada baris pasangan kaki jalan ketiga
 Pasangan kaki jalan ke dua lebih kecil dan tidak mencolok
• Pemeliharaan Induk
 Wadah : bak beton berbentuk persegi panjang berukuran 4 x 2,5 x 2 meter 3
 Ketinggian air : 30 cm
 Kadar salinitas : 12 ‰
 Pakan menggunakan : pellet dan kentang
2. Pemijahan
 Wadah pemijahan : bak beton persegi panjang, berukuran 4 x 2,5 x 2 meter 3
 Ketinggian air : 30 cm
 Kadar salinitas : 12 ‰
 Pakan menggunakan : pellet dan kentang
 Perbandingan induk : jantan dan betina (1 : 3 dan 2 : 5)

3. Penetasan Telur
 Wadah : bak beton yang berbentuk bulat
 Ukuran bak : tinggi 1 m, diameter 1
 Tinggi air : 30 cm
 Padat tebar induk : 9 ekor/bak
 Jumlah larva yang dihasilkan : 44.000 ekor/6 bak

4. Pemeliharaan Larva
 Wadah : bak beton berbentuk bulat
 Ukuran bak : tinggi 1 m, diameter 1
 Tinggi air : 60 cm
 Volume media pemeliharaan : 471 liter
 Kepadatan larva : 93 ekor/liter
 Pakan larva : naupli artemia

5. Pembesaran
• Wadah : Tambak berbentuk persegi panjang
• Luas Tambak : 0,25 ha
• Sistem pemeliharaan : polikultur dengan bandeng
• Sumber benih : Hatcheri di daerah Pengandaran, Ciamis.
Proses yang dilakukan selama kegiatan pembesaran adalah sebagai berikut :






a. Persiapan Tambak
Persiapan kolam pemeliharaan udang galah meliputi :
- Pengeringan kolam
- Perbaikan pematang, pengelolaan tanah dasar kolam dan pembuatan kamalir
- Pengapuran kolam yang bertujuan untuk sanitasi kolam dengan dosis 10-25 gram/m2
- Pemupukan sebanyak 100-250 grm/m2 dapat dilakukan bila udang hanya diberi sedikit makanan tambahan, tetapi bial makanan tambahan penuh diberikan, pemupukan kolam tidak perlu dilakukan
- Untuk mencegah hewan liar, pada saluran pemasukan dipasang saringan
- Penebaran benih dilakukan setelah 5-7 hari pengisian air kolam.
b. Penebaran Benih
Benih udang galah yang ditebarkan sebaiknya berukuran tokolan sup[aya lebih tahan dibandingan juvenil. Padat penebaran berumur 1-2 bulan, dengan masa pemeliharaan 3-5 bulan.
c. Makanan dan pemberian pakan
Selama pemeliharaan, udan galah di beri makanan tambahan berupa pellet ( 25% protein), dengan jumlah pakan sebanyak 5% dari berat total biomasa populasi udang bperhari. Frekuensi pemberiannya adalah 2 hari per hari, yaitu pada sore hari dan malam hari, karena pada waktu itu biasanya udang lebih aktif.
Untuk menentukan jumlah berat populasi udang yang ada yaitu dengan cara mengambil sedikit udang untuk sampel yang kemudian kita bisa mengetahui berat rata-ratanya. Berat rata-rata tadi dikalikan dengan jumlah udang yangdi perkirakan ada dalam kolam untuk mendapatkan jumlah berat seluruhnya. Jumlah pemberian (5%) per hari harus disesuaikan setiap 2 minggu sekali. Apabila semua dalam keadaan baik, untuk pertumbuhan udang kita bisa mengharapkan mortalitas hanya ± 5% per bulannya. Dengan demikian dapat diperkirakan jumlah udang yang dapat dipanen dengan mengurangi 5% tiap bulannya.
Makanan buatan dalam bentuk pellet dapat dipasaran, dapat pula dibuat sendiri dengan mencampurkan semua bahan yang diperlukan dan menghancurkannya dengan mesin penggiling.
d. Pemanenan
Setelah masa pemeliharaan 3-5 bulan udang dapat dipanen. Pada saat panen total ukuran udang bervariasi beratnya yaitu : 20-100 gram per ekor. Sistem pemanenan dapat juga dilakukan secara bertahap dimana hanya dipilih ukuran konsumsi (ukuran pasar). Pada tahap pertama dilakukan setelah dua bulan masa pemeliharaan (dari ukuran tokolan) dengan menggunakan jaring dan setiap bulan berikutnya. Produksi udang galah dapat mencapai 2-4 ton per ha. Teknik memanen yang paling murah adalah dengan mengeringakan kolam baik sebagian maupun menyeluruh. Biasanya apabila akan memanen seluruh udang maka kolam dikeringkan sama sekali, tetapi kalau akan memanen sebagian saja maka hanya sebagian air yang dibuang. Pada saat pemanenan sebaiknya dimasukkan air segar kedalam kolam melalui saluran air masuk. Selain itu panenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari dimana temperatur masih rendah. Air segar perlu dialirkan kedalam kolam untuk mencegah agar udang tidak mati kepanasan. Air dibuang melalui pusat saluran pembuangan dalam kolam sehingga semua udang akan mmengumpul didalam bak penangkap ataupun dalam saluran, kemudian ditangkap dengan menggunakan jaring kecil (serok). Setelah itu dimasukkan kedalam ember yang diisi es atau dalam kemasan ytang telah disiapkan dan dikirim kepasaran. Apabila dipanen seluruhnya maka kolam harus dikeringakan dan disiapkan lagi untuk pemeliharaan berikutnya.


e. Penanganan pasca panen
Udang yang telah dipanen, kemudian ditampung dalam waring yang dipasang pada tambak lain. Waring yang dipasang berjumlah 2 buah, hal ini untuk memudahkan dalam proses grading dan sortasi. Udang yang berukuran besar dan kecil, dipisahkan dalam waring yang berbeda. Pengangkutan udang dilakukan menggunakan wadah berupa box ( ice box ) dan udang disusun secara berlapis dengan es.




C. Pembahasan
Selama mahasiwa melaksanakan kegiatan praktek di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan Seleksi Induk
Induk udang galah yang digunakan untuk kegiatan pembenihan berasal dari hasil kegiatan pembesaran yang berlangsung di tambak. Kegiatan seleksi ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemanenan, yaitu pada saat penyortiran. Udang – udang yang sesuai dengan kriteria calon induk yang baik, kemudian dipisahkan. Dalam melakukan seleksi induk, kriteria yang diguanakan adalah sebagai berikut :
Jantan :
• Ukuran relatif besar yaitu bobot > 50 gram
• Organ lengkap
• Gerakan lincah
• Tidak cacat
Betina :
• Bobot minimal 40 gram
• Organ lengkap
• Gerakan lincah
• Tidak cacat
• Matang gonad ditandai dengan warna gonad yang cerah

2. Pemeliharaan Induk
Calon induk udang galah yang telah diseleksi kemudian dipelihara di dalam bak dengan tujuan untuk proses adaptasi dan proses pematangan gonad. Kegiatan pemeliharaan induk di BPBPLAPU dilakukan pada bak berbentuk persegi panjang berukuran 4 x 2,5 x 2 meter3 , dengan ketinggian air 30 cm. Bak dilengkapi selang aerasi dan shelter yang terbuat dari pipa PVC berukuran 3 inch. Tujuan penggunaan shelter ini adalah untuk tempat persembunyian. Sesuai dengan literatur, pemeliharaan induk jantan harus dipisahkan, akan tetapi di BPBPLAPU kegiatan pemeliharaan induk jantan dan betina disatukan.
3. Pemijahan
Sistem pemijahan yang dilakukan di BPBPLAPU merupakan pemijahan secara massal dan dilakukan pada 1 bak, yaitu bak pemeliharaan larva. Dengan demikian, ketika akan kegiatan pemijahan tidak dapat terkontrol dengan baik. Perbandingan jumlah induk jantan dan betina yang dipisahkan adalah 1 : 3 dan 2 : 5. Hal ini sesuai dengan sifat induk jantan yang dapat mampu membuahi induk betina lebih dari satu ekor. Selama kegiatan pemijahan, induk diberi pakan berupa kentang dengan tujuan untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan oleh induk.
4. Penetasan Telur
Setelah waktu pemijahan berlangsung selama 21 hari, maka dilakukan seleksi induk-induk yang sedang mengerami telurnya. Induk-induk yang sedang mengerami telurnya kemudian dipisahkan ke dalam bak penetasan. Induk-induk dipisahkan berdasarkan warna telurnya, telur yang berwarna kuning cerah menunjukan bahwa telur tersebut berada pada awal pengeraman. Semakin gelap warna telur, yaitu abu-abu menandakan telur yang sudah siap menetas. Padat tebar induk pada bak penetasan adalah 9 ekor untuk bak bulat berdiameter 1 m, tinggi bak 1m, dan tinggi air 30 cm.
5. Pemeliharaan Larva
Setelah proses pengeraman, telur yang warnanya sudah gelap akan menetas dalam waktu 6 – 12 jam. Ketika terjadi proses penetasan, maka akan terlihat larva udang berenang di kolom air. Larva yang sudah menetas tidak langsung diambil, akan tetapi dibiarkan selama beberapa hari. Larva dapat dipindahkan kedalam bak pemeliharaan larva setelah berumur 3 – 4 hari. Proses pemindahan dilakukan dengan cara menyerok larva menggunakan seser halus secara perlahan-lahan. Proses pemeliharaan larva dilakukan pada bak berukuran sama dengan bak penetasan induk yaitu bak bulat berdiameter 1 m, tinggi 1m dan kedalaman air 60 cm. Air yang digunakan untuk kegiatan pemeliharaan memiliki salinitas 12 ppt dengan suhu yang dijaga agar tetap stabil. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan selang aerasi dan heater.
Pakan yang diberikan kepada larva selama proses pemeliharaan adalah naupli artemia. Dosis kepadatan naupli artemia tidak ditentukan dan pemberiannya dilakukan secara perkiraan.
6. Pendederan
Kegiatan pembenihan udang galah yang dilakukan di BPBPLAPU masih tergolong kegiatan uji coba, sehingga belum sampai dalam proses pendederan.
7. Pembesaran
Kegiatan pembesaran udang galah di BPBPLAPU dilakukan dalam tambak. Tambak yang digunakan adalah tambak dengan konstruksi tanah dan salinitas air tambak sangat kecil, yaitu 2-3 ppt. Air yang digunakan untuk mengair tambak berasal dari sumur bor yang disedot menggunakan pompa. Sebelum tambak digunakan untuk kegiatan






BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Setelah mahasiswa melaksanakan kegiatan praktek di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Mahasiswa mengetahui kegiatan budidaya udang galah dari tahap pembenihan sampai pembesaran.
2. Kegiatan budidaya udang galah yang dilakukan di BPBPLAPU lebih ditekankan pada kegiatan pembesaran di tambak, dan kegiatan pembenihan masih terbatas pada kegiatan uji coba.
3. Sistem pembenihan udang galah dilakukan secara massal yaitu pada bak pemijahan yang diisi beberapa pasang induk jantan dan betina dengan perbandingan 1 : 3 atau 2 : 5.
4. Sistem pemeliharaan udang di tambak dilakukan secara polikultur dengan ikan bandeng

B. Saran
Saran yang dapat disampaikan setelah mahasiswa melaksanakan praktek di BPBPLAPU adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan pembenihan udang galah sebaiknya dilakukan secara terkontrol dengan cara memisahkan antara bak pemeliharaan dengan bak pemijahan, dengan demikian akan diketahui induk yang siap memijah dengan induk yang belum siap untuk dipijahkan.
2. Untuk mempelajari kegiatan budidaya udang galah memerlukan waktu yang lebih lama, sehingga untuk kegiatan praktek berikutnya sebaiknya alokasi waktu untuk praktek ditambah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar